Pages

Standupwrongway Fanfict JKT48 : Unreachable 2 (Part 8)

Saturday, 26 March 2016
Marseille, Prancis

Shania melihat jam menunjukkan pukul 11 malam, ia tidak bisa tidur. Ia kini sedang berada di depan laptop sambil melihat-lihat timeline twitternya yang isinya hanya itu-itu saja. Ia baru saja berkeliling Marseille bersama Adam dari pagi hingga malam. Mereka berjalan-jalan ke Lereng bukit Le Panier yang merupakan tempat untuk menyaksikan koleksi mumi kucing dan sarkofagus di La Vieille Charite, rue de la charite.

Mereka pun juga mengunjungi Musee d'Art Contemporain yang berada di Cesar Palace yang berisikan seni-seni seperti patung, lukisan dan lain-lain. Perjalanan mereka pun mirip dengan karyawisata anak sekolah yang selalu datang mengunjungi situs-situs bersejarah. Mereka makan malam di restoran mahal yang terletak di hotel Adam menginap di Boulevard Michelet, menu makanannya pun cukup terbilang sangat mahal, satu porsinya saja bisa seharga 65 euro.

Akhirnya ia tak bisa tidur sampai sekarang. Ia lalu membuka handphone-nya dan melihat-lihat galeri Banyak sekali foto Adam dan dirinya, Shania melihat satu per satu dan tersenyum sendiri, ia merasa beruntung bisa berpacaran kembali dengan Adam walau Adam selalu terlihat seperti mengaturnya bahkan Adam sendiri selalu cemburu ketika tau bahwa Shania banyak mempunya teman laki-laki.

"Kamu bisa gak jangan dekat-dekat dia ? Aku punya firasat buruk." kata Adam.

"Loh kok gitu ? Dia baik kok, lagian kenapa sih kamu kaya gini terus kalau aku deket sama cowok ? Cemburu ya ?" kata Shania.

Adam sangat protektif, pikir Shania. Namun Shania memilih untuk berpikir positif dan menganggap bahwa itu adalah bentuk rasa sayang Adam kepada Shania.

Lalu dirinya tersentak ketika bunyi notifikasi emailnya berbunyi, lalu segera ia mengeceknya dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat isi emailnya.

****

London, UK

Zaki menutup laptopnya setelah ia menulis kembali di blognya. Ia menulis tentang keadaannya sekarang yang baru saja dicampakkan oleh orang yang ia sayang. Sekarang ia tak tahu harus bagaimana, mau tidur tak bisa, ingin makan tapi tak nafsu, ingin bercerita kepada Damien namun tidak sanggup karena untuk saat ini itu terlalu sakit untuk diceritakan.

Apa ini karma ? pikir Zaki. Mungkin ia sedang merasakan apa yang di rasakan Shania ketika ia pergi meninggalkannya. Ia tentu sudah tau bahwa Shania sudah melupakannya karena ia sudah bersama orang yang baru yang perlahan-lahan menghapusnya..

****

Bandung, Indonesia

Valdy sedang makan siang di rumah makan padang di dekat rumahnya. Ia melihat jam menunjukkan pukul 2 siang dan jarum panjang sedang bergerak menuju angka satu.

"Pelan-pelan makannya, jangan cepet-cepet." kata Viny sambil memandang Valdy yang terlihat buru-buru.

"Iya-iya, lagian kan mau jemput kesayangannya Arraufar di stasiun. Btw, udah sampai mana dia ?" tanya Valdy.

"Tadi dia nge-line katanya bentar lagi nyampe."

Setelah makan mereka berdua menuju stasiun kota untuk menjemput Yuvia. Di jalan, mereka membahas apapun yang mereka lihat. Seperti tukang becak, pohon yang besar, dan lain-lain.

"Eh, Saritem dimana sih ?" tanya Valdy sambil melewati jalan di belakang stasiun.

"Aku mana tau, lagian kamu nanya pertanyaan yang gak ada mutunya sama sekali." kata Viny.

"Hahaha, kayaknya itu deh Saritem." kata Valdy lagi.

"Udah deh ah, bahas saritem mulu, lagian kamu mau ngapain kesana ? mau jual diri ?" ujar Viny.

"Udah jangan cemberut ah." kata Valdy sambil mencubit pipinya, ia lebih memilih mengakhiri pembicaraan tentang Saritem itu.

**

"Hai Viny!!!" seru Yuvia dari kejauhan.

"Hai!" jawab Viny.

"Gue gak di sapa nih ?" kata Valdy.

"Oh iya, hai Valdy, apa kabar ?"

"Biasa ajah, okelah langsung ajah ya pulang." kata Valdy.

"Dasar, jawabnya gitu kalau sama cewek lain." ujar Yuvia, sementara Viny hanya tertawa.

Yuvia ke Bandung dengan tujuan samar, sebelum hari itu, Yuvia tiba-tiba mengirim pesan lewat Line kepada Viny bahwa ia ingin bertemu. Viny dengan senang hati menerimanya, tapi kebetulan Viny lagi liburan di Bandung sehingga Yuvia mau tak mau harus pergi ke Bandung. Sendirian.

Setelah mereka sampai di rumah, Valdy langsung ke kamarnya, sementara Viny dan Yuvia ke kamar Marsha, sepupunya Valdy yang masih kelas 11 SMA yang tinggal bersama Valdy di rumah itu, setiap Viny ke Bandung pastilah ia tidur disitu.

Valdy lalu merebahkan dirinya lalu berpikir bahwa Yuvia sedang ada masalah dengan Arraufar. Di mobil pun Yuvia hanya terdiam, biasanya ia akan bercerita panjang lebar tentang ini itu, namun kali ini tidak.

Lalu terdengar nada dering dari handphone-nya, kemudian Valdy langsung menempelkannya ke telinga tanpa tahu siapa yang meneleponnya.

"Halo ? Siapa ini ?" tanya Valdy membuak percakapan.

"Ha-halo, Dy, lu sibuk ?" kata seseorang dengan suara yang agak ringan namun tidak berat.

"Eh, Zaki, buset ada apa nih nelepon ?"

Ada jeda yang lama sampai Zaki melanjutkan. "Gue mau cerita."

"Lu tau kan mahalnya nelepon dari London kesini ?" kata Valdy mencoba menjelaskan. "Mending lu cerita di Line ajah, gimana ?"

"Engga, gue mau langsung." kata Zaki.

"Okelah, ya ada apa ?"

Ada jeda panjang lagi, lalu terdengar seperti helaan nafas. "Gue putus sama Veranda."

"WHAT THE FU..... Beneran ?" Valdy terkejut mendengarnya. "Kok bisa ?"

"Entahlah, pokoknya dia kemarin ngajak ketemuan di cafe... Abis itu mutusin gue."

"Gak coba lu cegah ? Kok lu terima ajah ? Lu masih cinta kan sama dia ? Kenapa di lepas! Tai!" seru Valdy.

"Engga semudah lu bilang tai, Dy. Ini sulit banget posisinya, apalagi posisi gue. Di sisi lain gue cinta sama Veranda, tapi lu gak tau bahwa Naomi, temen satu flatnya itu sayang sama gue...... Mungkin.... Naomi cerita tentang kejadian lusa waktu gue gak secara sengaja ketemu dia di jalan, abis itu gue temenin ajah dia jalan ke Camden Town. Veranda selama ini gak keberatan gue jalan sama cewek lain, tapi mungkin Naomi cerita dan membuat Veranda serba salah jadinya ketika dia harus berpacaran dengan gue secara diam-diam sementara temannya mencintai gue." jelas Zaki.

"Bentar... Bentar.... Naomi ya... Kakaknya Sinka ?" tanya Valdy.

"Eh ? Gue pernah denger sih dia nelepon adiknya gitu, tapi gue gatau adiknya ternyata Sinka. Dunia sempit banget...." kata Zaki. "Intinya gitu, gue gak semangat banget hari ini, sumpah dari malam gue belum tidur pas abis nulis blog."

"Karma. Mungkin yang lu rasain sekarang adalah sama dengan perasaan Shania ketika ditinggal lu, sampai sekarang dia gak tau lu dimana dan sekarang pun dia udah cukup bahagia sama pacarnya."

Kembali ada jeda yang panjang. "Hoy Halo ?!"

"Oke Dy, makasih." Zaki menutup telepon.

Valdy terdiam dan tak percaya dengan kondisi sekarang. Yuvia sedang bermasalah dengan Arraufar, sementara Zaki putus dengan Veranda. Namun ia memilih tak memikirkannya, lalu ia mengirim pesan kepada sepupunya yang sedang merantau ke Prancis.

"Lu udah baca blog sanzacks belum ? Gue udah."

Walau faktanya ia baru akan membaca nanti malam, sebelum tidur.

****


London, UK

Zaki menundukkan kepalanya sehabis menelepon temannya itu.

"Karma. Mungkin yang lu rasain sekarang adalah sama dengan perasaan Shania ketika ditinggal lu, sampai sekarang dia gak tau lu dimana dan sekarang pun dia udah cukup bahagia sama pacarnya."

Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di kepalanya sama seperti yang dia pikirkan semalam bahwa semua ini adalah karma. Ia merasakan kepalanya berat karena memang ia belum bisa tidur dari semalam. Kerjaannya adalah merenung meratapi foto Veranda yang kini masih menjadi wallpaper handphone-nya.

Jika Lakhsan melihatnya, mungkin Lakhsan akan segera membawanya ke rumah sakit. Memang, penampilan Zaki jauh dari kata sehat, ia terlihat pucat karena tidak tidur semalaman dan diotaknya dipenuhi pikiran akan Veranda.

Ia lalu membanting diri ke kasur dan memilih tertidur.

****

Marseille, Prancis

Shania terbangun dari tidurnya setelah semalam ia sukses tidur jam 1 malam. Badannya serasa berat dan bangkit dari kasur pun sangat sulit untuk sekarang. Tangannya meraih handphone dan mulai membuka satu per satu pesan yang ditujukan kepadanya.

"Lu udah baca blog sanzacks belum ? Gue udah." dari Valdy.

"Iya udah semalam, kebetulan pas potingannya masih anget! Dia cerita gitu, kayanya ada masalah percintaan deh." balas Shania.

Lalu ia memilih tidak bangkit dari kasur, ia tak ada rencana apa-apa hari ini karena Adam ternyata mendadak pulang ke London karena ada keperluan.

"Kok bilangnya mendadak sih sayang ? kan aku gak bisa nganterin kamu." balas Shania ketika Adam mengirimkannya pesan bahwa ia harus pulang. Namun tak ada balasan dan mencoba mengerti bahwa mungkin Adam sedang sibuk.

Ia bangun dari kasurnya karena memang hanya membuang waktu jika tidur-tiduran di hari libur ini. Setelah selesai mandi, ia mendapat pesan dari temannya.

"Shania, makan siang bareng yuk, ketemuan di stasiun ya."

***

"Shania!" seru temannya yang ternyata sampai duluan di stasiun.

"Hey! Lama gak nunggunya ?" tanya Shania karena merasa tidak enak.

"Oh engga kok, gimana kalau kita makan di Vieux Port ajah ? Ada restoran Tunisia disitu dan bonusnya aku traktir."

"Oh ayo!" tentunya, Shania tak akan melewatkan begitu saja tawaran temannya karena dia memang dituntut harus hidup hemat karena uang bulanannya tidak terlalu banyak.

Mereka lalu menaiki kereta yang disana terkenal dengan Metro menuju Vieux Port.

"Farisha, bukannya kamu punya mobil ya disini ?" tanya Shania ketika mereka sudah duduk manis di kereta.

"Iya, tapi asal kamu tau ajah, kalau naik mobil disini sama aja kaya di Indonesia. Karena pengemudi disini kebanyakan gak patuh sama peraturan yang ada, serasa jalanan milik sendiri. Terus kalau naik mobil juga susah buat parkir, disini kan jalanannya pada sempit atau emang sengaja kali ya biar semua penduduk disini pake transportasi umum. Pokoknya gitu deh." jelas Farisha kepada temannya.

Mereka berdua akhirnya mengobrol seputar urusan mereka di PPI. "Jadi, nanti kan ada sarasehan gitu deh di London, kebetulan PPI kota kita diundang kesana."

"Baguslah, lagian aku belum pernah ke London." kata Shania yang melipatkan tangannya.

"Loh kamu belum pernah, bukannya pacar kamu tinggal disana ya ?" tanya Farisha.

"Iya belum, aku cuman baca blog mahasiswa yang kuliah disana."

"Oh gitu, lagian ntar ada perwakilan dari London dateng kesini, buat silaturahmi aja." kata Farisha yang memang memegang peran penting di PPI kota ini. Shania pikir mungkin Adam yang akan menjadi perwakilannya, karena ia adalah ketua perhimpunan itu. Ia sangat senang tentunya.

Mereka pun sampai lalu langsung menuju restorannya. La Kahena, begitulah nama restoran Tunisia yang terletak di 2 rue de la Republique. 2e. Marseille. Karena ia ditraktir, Shania menyerahkan semua kepada Farisha untuk memesan makanan.

"Je veux deux le marguez et deux mint tea." kata Farisha yang memesan dua marguez, yaitu daging sapi yang dibumbui jintan serta memesan dua teh mint. Shania iri dengan pelafalan bahasa prancis Farisha karena memang Farisha sudah dari SMA menetap di Marseille bersama keluarganya.

"D'accord, Attendez quelques minutes." kata Pelayannya yang meminta menunggu beberapa menit.

"Oui." jawab Farisha sambil tersenyum, lalu ia menatap Shania. "Tenang, pasti enak!"

Tak lama kemudian makanannya sampai, ia lalu menyantao hidangan yang ada di depannya walaupun sekarang pikirannya tertuju kepada kota London. Bukan ingin bertemu Adam, melainkan ia penasaran siapa penulis blog Sanzacks dan apa yang dituliskannya.

Ia ingin ikut ke London.

*****

London, UK

Zaki terbangun dari tidurnya dan ia merasa badannya lebih ringan dari biasanya karena ada dasarnya ia hanya butuh tidur untuk memulihkan badannya. Namun tetap, ia masih belum bisa melupakan Veranda karena perempuan diciptakan untuk sulit dilupakan. Tidak mungkin melupakannya dengan satu tidur saja, pikir Zaki.

"Koperasi di KBRI masih buka gak ?" Zaki mengetik sebuah pesan kepada Sidik.

Tak lama kemudian Sidik membalasnya. "Ya ada lah, lu kesini kek."

***

"Surga dunia!" Zaki berteriak di dalam hati ketika melihat koperasi di KBRI banyak yang menyediakan makanan, gratis pula. Dari lontong sayur, kupat tahu, ketoprak, soto lamongan, sate padang, soto betawi dan lain-lain.

"Woy, Zaki, kemari kau!" teriak Alle yang ternyata juga berada di koperasi.

"Hahaha, iya bang, aku ngambil makanan dulu." Zaki langsung segera mengambil sate padang.

Namun matanya langsung melirik seseorang dengan tampilan yang cukup rapi dan itu cukup untuk membuat para perempuan disini selalu melirikya.

"Gimana ? Puas liburannya ?" tanya Zaki yang langsung duduk.

"Ya gitu deh dan lu harus tau pacar gue udah pindah ke Marseille 2 bulan yang lalu kalau gak salah." kata Adam.

"Kok gue baru tau sekarang sih, ah payah lu gak cerita-cerita." kata Zaki, sebenarnya ia memang tidak suka bertingkah sok akrab seperti itu, namun ia harus begitu lantaran Adam lah yang membuatnya tau ini itu tentang kota London dan Adam juga yang mengajak Zaki masuk ke PPI.

"Hehehe, gitu deh."

Tentunya Zaki tidak akan menanyakan siapa pacar Adam karena hal itu sangat tidak penting untuk kelangsungan hidupnya dan tentu saja saat ini ia sedang malas jika membicarakan perempuan.

"Acara sarasehan nye kapan nih ?" tanya Zaki.

"Awal september kayaknya, pas kebetulan awal musim gugur, ntar kita sebagai tuan rumah harus ngirim masing-masing perwakilan ke PPI kota-kota di eropa yang diundang. Tapi sayangnya, gue diharuskan ke PPI kota Den Haag, jadi gimana kalau lu ke Marseille ajah ? Siapa tau lu ketemu pacar gue kan." kata Adam sambil menyeruput es cendol.

"Hmm, okelah."

"Yaudah, gue keluar dulu ada keperluan. Bye." kata Adam yang langsung ngacir, cendolnya belum habis.

Zaki lalu melihat layar handphone-nya. Tidak ada satu notifikasi pun. Lalu ia mencoba menghubungi Veranda via line karena dia ingin sekali menemuinya, menanyakan apakah Veranda benar-benar ingin berpisah dengannya.

"Ichsan."

Zaki langsung menoleh ke orang yang memanggil nama depannya. "Eh iya, pak." Lalu bapak itu duduk di kursi bekas Adam.

"Hmm, udah lama gak liat kamu, Ayah sehat ?" tanya Bapak Ateng, atase kedutaan.

"Sehat pak, sekarang tinggal di Italia sama Ibu jadinya rumah di Indonesia kosong." jawab Zaki. Pak Ateng tentu kenal Ayahnya karena ternyata keduanya adalah teman semasa SMA dan dari pertanyaannya, Zaki yakin keduanya sudah lama tidak bertemu.

"Oh, nanti katanya pengurus PPI disini harus ngirim perwakilan ke PPI kota-kota lain kan ?" tanya Pak Ateng sambil memakan bakwan.

"Iya, saya disuruh ke Marseille." kata Zaki.

"Ehhh yang bener ? Anak sama Istri saya tinggal disana, kebetulan anak saya juga anggota PPI disana. Gimana kalau saya minta dia buat jemput kamu ?" tawar Pak Ateng sambil menyomot bakwan keduanya.

Zaki tentu tidak bisa menolak karena selain dia tidak tau apa-apa tentang kota Marseille, ia juga tidak mau rugi keluar uang. "Boleh, makasih Pak."

"Nanti saya kabarin dia, oke, saya ke dalam dulu masih banyak tugas."

Zaki melirik handphonenya kembali dan ia tentu kecewa karena Veranda hanya membaca pesannya tanpa sekali pun dibalas.

***

Marseille

Malam hari di kota ini sangatlah ramai karena memang kehidupan malam disini benar-benar hidup. Tempat terbaik di malam hari adalah di Vieux Port, Place Thiars, dan Escale Borely.

Shania melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka 10. Bersama Farisha ia sedang menikmati live music di Dock des Suds yang terletak di 12 rue Urbain V, 2e, Marseille. Tempat yang memang sangat multikultural karena memang banyak artis-artis dari Kamerun, Aljazair, Korea Selatan, bahkan Kongo yang mengisi acara live music tersebut.

"Far, pulang yuk, aku ngantuk banget sumpah." kata Shania ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah 12.

"Oke ayo pulang, aku maklumin soalnya kamu baru beberapa bulan disini. Ntar kalau udah biasa pasti minimal pulang jam 2 hahaha." Farisha menertawakan Shania.

Sesampainya di apartemen, Shania tidak langsung tidur, melainkan membaca kembali isi blog Sanzacks karena memang ia belum baca sepenuhnya.

Rindu mungkin tak akan lepas dari kehidupanku, walaupun ada 'orang baru' yang membuat rasa rindu itu lenyap, pasti rindu itu akan pulang kembali kepada batin ini. Aku tentunya ingin menghilangkan rasa ini semua, dengan berbaikan lagi dengannya, namun apadaya keputusan berada ditangannya, aku hanya menunggu pasrah ditemani rasa rindu yang tak kunjung padam.

Aku kembali merindukannya, yang sudah berada di pelukan orang lain, yang mungkin dulu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan sekarang. Semua berbalik, mungkin ini karma.

Saat ini, aku berharap dunia berkonspirasi untuk menemukan aku dengan seseorang yang sangat aku rindukan...

Yang kini bahagia bersama orang lain.

Shania terpaku membaca tulisan itu. Mengapa semuanya seakan sama dengan yang ia alami dulu, ia merindukan seseorang yang tidak jelas keberadaannya. Kini ia bahagia bersama Adam tentunya dan perlahan-lahan Adam menyukseskan misinya untuk menghapus Zaki dari hatinya, namun ketika membaca tulisan itu, ia kembali mengingat sosok yang sangat ia rindukan dahulu. Dosa lamanya kembali dan kini ia terus memikirkan Zaki. Apakah ia sudah berubah atau sama sekali belum, atau ia sudah punya pacar baru atau belum.

Seolah ada yang memaksa, ia ingin bertemu dengan Zaki, walau hanya sekedar bertegur sapa karena dirinya cukup tau diri jika masih cinta kepadanya, karena saat ini ia bersama Adam yang selalu mencintainya.

"Oke, kapan kita akan berjumpa setelah sekian lama rindu ini kupendam ?"

****

3 Bulan Kemudian
London, UK

Zaki kini sedang berada di perpustakaan kampusnya. Perpustakaannya terbilang ramai namun kesunyiannya mengalahkan kuburan. Ia menyapa pelan-pelan teman-temannya yang sedang mengerjakan tugas karena memang jika ada kegaduhan sedikit saja, itu hanya membuatnya dimarahi oleh orang-orang yang sedang serius.

"What the hell are you doing here ?" tanya Roberto, orang amerika latin yang senantiasa mengobrol dengan Zaki, Roberto sangat menyukai hal yang berbau Indonesia.

Zaki duduk disebelahnya lalu berbisik. "Fishing." ia kesal, karena sudah jelas semua orang pergi ke perpustakaan untuk membaca buku, mengerjakan tugas, dan mencari gebetan. "You have to think if you want to ask someone."

"I'm kidding."

Ia lalu melanjutkan membaca buku yang disarankan dosennya. Tebalnya sangat manusiawi, sekitar 600 halaman lebih. Di sisi lain, ia masih belum bisa melupakannya, ia selalu mengirim pesan lewat Line, namun hanya dibaca saja. Mencoba menelepon, tidak diangkat.

Selesai dari perpustakaan, ia memutuskan untuk menuju flat Veranda. Tindakan berani sekaligus bodoh menurutnya, karena mungkin ujung-ujungnya ia hanya diusir.

Memasuki akhir musim panas, tentunya suhu udara di kulit Zaki terasa manusiawi. Karena Zaki memang sangat menyukai musim panas dan ia sangat membenci apa itu musim dingin. Suhu 33 derajat celcius masih bersahabat dengan kulitnya. Berbeda dengan temannya yang berasal dari Rusia, Igor, kulitnya memang diciptakan untuk tinggal di kawasan dingin, sementara ia akan seperti orang sekarat jika keluar dalam waktu yang lama di musim panas.

Ia kini sudah berada di depan pintu flat Veranda, jarinya sangat bernafsu untuk memencet bel yang ada di samping kirinya. Lalu Zaki memencet belnya sebanyak 2 kali, tak lama kemudian pintu itu terbuka.

"Eh Zaki." kata Naomi yang membuka pintu. Zaki entah harus bersyukur atau tidak, bersyukur karena yang membuka Naomi yang tak mungkin mengusirnya, menyesal karena ternyata Veranda bukanlah orang yang ia lihat pertama kali.

"Naomi, Veranda ada ?" tanya Zaki.

"Masuk dulu deh." kata Naomi yang mempersilahkan Zaki masuk.

Zaki melihat bahwa flatnya sama sekali tidak berubah, sama seperti ia terakhir kali datang bulan lalu.

"Gak berubah ya." gumam Zaki yang lalu duduk di kursi meja makan.

"Apanya ?" tanya Naomi yang sedang membuatkan minuman.

"Ya flat ini." jawab Zaki. "Kok sepi, Veranda gak ada ya ?"

Naomi datang dengan membawakan Zaki minuman dan kebetulan ia sangat haus. "Veranda lagi pergi."

"Ke ?"

Naomi tersenyum, jarang-jarang ia tersenyum, pikir Zaki. "Ke Paris."

"Ehhh, sama siapa ?" tanya Zaki.

"Katanya sih sama temennya, tapi gak tau juga."

Zaki bingung dengan jawabannya, seperti terdengar bahwa mereka sedang tidak akur. "Oh begitu."

Lalu mereka berdua hanya diam, karena tidak ada lagi yang perlu dibahas.

"Naomi."
"Zaki."

Mereka berdua berkata secara bersamaan. "Kamu dulu." kata Naomi.

"Hehehe, aku mau nanya." kata Zaki, Naomi mengangkat kedua alisnya sambil menunggu pertanyaan Zaki. "Kamu punya adik kan ?"

"Iya, emangnya kenapa ?" tanya Naomi.

"Oh engga cuman nanya ajah, soalnya kebetulan ada temen aku yang kakaknya tinggal di London." kata Zaki.

"London itu luas, Zaki." ujar Naomi sambil tersenyum lagi yang membuat Zaki salah tingkah.

"Sinka ?"

Naomi tersentak. "Eh, Sinka itu adik aku. Emang aku ga pernah cerita ya ?"

"Hahaha, dunia ini kan udah sempit, Kak Naomi." kata Zaki yang kembali memanggil Naomi dengan kata 'Kakak' "Itu temen sekelas aku pas SMA, kak."

"Kok pake 'kak' sih ? Gaenak tau." kata Naomi, namun Zaki hanya tersenyum.

Sesudah mengobrol lama, Zaki pamit pulang karena dirinya di suruh untuk datang di rapat PPI karena Adam sedang pergi. Entah kenapa Zaki melihat Adam seperti orang yang tidak tau malu, ia ketua, namun selalu berpergian seakan tak ada yang perlu di pedulikan.

Namun Zaki hanya menghela nafasnya dan mulai berjalan menuju flatnya.

*****

Paris, Prancis

"Fotoin aku ih!" seru Shania sambil memberikan handphone-nya kepada Farisha.

Mereka berdua sekarang sedang berada di Katedral Notre Dame yang terkenal itu. Farisha hanya tersenyum ketika Shania bertingkah seperti anak kecil yang selalu berkeliaran dan meminta foto. Ia memaklumi karena ini adalah pertama kalinya Shania pergi ke Paris.

Setelah dari Katedral tersebut, mereka berdua pergi ke Place de la Concorde, yaitu alun-alun yang berbentuk oktagonal yang terletak diantara Tuileries Gardens dan Champs Elysées. Farisha menjadi tour guide untuk Shania yang hanya mengangguk ketika mendengar penjelasannya.

"Abis ini mau kemana ?" tanya Farisha.

"Hmm, Eiffel ?"

"Hahaha, itu terakhir ya, kebetulan cuacanya bagus, gimana kalau kita ke Arc de Triomphe ?" kata Farisha.

"Kenapa ?"

"Jujur, aku lebih suka liat Paris dari ketinggian di Arc de Triomphe daripada di Eiffel, hehehe." jelas Farisha yang langsung di iyakan Shania.

Shania pikir Farisha benar, emang dari atas Arc de Triomphe ini terlihat bagus. Ia melihat kota Paris begitu kecil, dari kejauhan ia bisa melihat Menara Eiffel yang menjadi ikon kota tersebut. Namun sekelebat bayangan Zaki menghampiri pikiran Shania. Ia percaya bahwa matanya akan menangkap sosok laki-laki yang ia coba lupakan itu.

"Kalau aku ke Paris pasti aku kesini Shan." ujar Farisha. "Bahkan menurut aku, tempat ini adalah tempat yang pas untuk memikirkan seseorang."

Shania hanya mengangguk. Ia pun berpikir realistis sekarang, dirinya sekarang sudah bersama Adam dan ia sangat mencintainya dan tak perlu lagi merisaukan seseorang yang sudah menghilang tanpa jejak. Baginya, orang seperti itu harusnya tidak ada, orang seperti itu harusnya dilupakan. Namun hatinya yang menolak melupakannya, namun benaknya selalu memaksa untuk lupa.

"Makan yuk Shan ? Kebetulan aku laper banget nih." ajak Farisha yang lalu menarik tangannya.

Saat berjalan ke restoran, Shania sudah membayangkan makanan yang lezat yang membuat perutnya berbunyi, rasanya ke Paris belum lengkap tanpa menyantap makanan di restoran terkenal di Paris.

Sudah sampai di restoran, Shania melihat ada seorang perempuan yang di kenalnya lalu tanpa pikir panjang Shania menghampiri perempuan tersebut.

"Eh...." Shania berpikir sejenak. "Kak Veranda ?" entah kenapa ia masih memanggilnya dengan sebutan Kakak, namun ia tidak peduli dengan itu.

"Ah kamu.... Shania ya ?!" seru Veranda terlihat senang.

"Hahaha iya, apa kabar Kak ?" tanya Shania basa-basi.

"Baik kok, kamu di Paris ada acara apa ?

"Liburan ajah, kebetulan aku sekarang kuliah di Marseille." jawab Shania sambil tersenyum.

Lalu Farisha menghampiri mereka berdua. Shania dengan cepat mengenalkan temannya ini. "Eh Farisha, ini Veranda. Kak Veranda, ini Farisha."

"Farisha."
"Veranda."

"Kakak kesini sama siapa ?" tanya Shania.

"Ada, tapi dia lagi keluar sebentar." kata Veranda. Lalu terdengar suara pintu terbuka. "Nah itu dia."

Shania lalu membalikkan badannya dan melihat orang yang dimaksud Veranda..

Shania merasa bahwa sekarang bumi sedang menimpa dirinya..

Keras.. Keras..

To Be Continued...

Read more ...

Standupwrongway Fanfict JKT48 : Unreachable 2 (Part 7)

Wednesday, 27 January 2016
Jakarta, Indonesia

Shania sudah sampai di rumah setelah ia mengantarkan Adam ke Bandara. Ia lalu bergegas menuju kamar dan merebahkan dirinya di kasur, memikirkan kembali apa yang sudah ia dengar di radio, namun ia memilih tak mempermasalahkan itu. Selagi ada Adam, mungkin Shania bisa perlahan melupakan Zaki.

Shania mengambil handphone-nya dan ia langsung kaget ketika melihat Path-nya dan mengetahui Valdy berada di London. Lalu ia langsung nge-line Valdy dengan segala amarah yang ia pendam mengapa Valdy tak mengajaknya.

"BANGKE! KENAPA KAMU GAK BILANG-BILANG KALAU MAU KE LONDON, AKU IKUT!" Ia tulis dengan capslock yang menyala-nyala.

Namun setelah beberapa jam, tak ada balasan. Shania memilih untuk tidur karena lelah.

London, UK

Valdy terdiam ketika melihat siapa yang baru saja masuk dan ia melihat orang itu bergumam sedikit dengan bahasa yang tidak ia ketahui.

"Oh iya, ini temen gue..." Belum Wisnu menyelesaikan ucapannya, Zaki menghampiri Valdy lalu menepuk kedua bahu Valdy dengan keras.

"Ini beneran lu ? Valdy ?" tanya Zaki bersemangat.

"Oui!" jawab Valdy datar. Ia tau ini diluar akal sehat, bayangkan saja ketika teman yang sudah lama menghilang tanpa sebab dengan sengaja dan saat bertemu dia seakan-akan tak berdosa, seakan tak mengingat kesalahan apa yang dia lakukan.

"Eh... Jadi kalian udah kenal ? SMALL WORLD!" seru Wisnu.

"Udah, gue sama dia kan temenan dari SD sampai SMA dan hebatnya lagi kita sekelas terus." ujar Zaki sambil tersenyum.

"Hmm, kalau begitu, Valdy. Kenapa lu gak minta Zaki ajah yang jemput tadi ? Kalian kan teman lama, kok sampai minta gue sih ? Itu kalau emang kalian udah temenan dari SD."

Zaki terdiam, terlebih Valdy. "Hmm, kejutan ajah hahaha. Lagian lu kan yang ngebet pengen ngejemput gue ?" jawab Valdy.

"Eh Dy, ada yang mau gue tunjukin." Zaki lalu bergegas ke kamarnya yang berada di lantai dua, sementara Valdy mengekor di belakang

Valdy melihat bahwa kamar Zaki ini kecil, namun nyaman. Terdapat satu meja, kursi, kasur, lemari, dan satu lukisan besar.

"Mau nunjukin apaan ?" tanya Valdy.

"Engga jadi, gue disini mau ngobrol ajah sama lu." jawab Zaki santai. "Jadi, apa kabar ?"

"Flat." kata Valdy datar karena ia menjadi malas ketika berhadapan dengan orang yang penuh salah, namun, ia seakan tak merasa berdosa, mungkin tulah untuk saat ini dan kedepannya tidak tau.

"Hmm begitu.." ucap Zaki.

Akhirnya setelah itu mereka terdiam tanpa kata, tangan Valdy lalu merogoh koceknya dan mengambil handphone-nya, lalu ia melihat pesan dari Shania.

"BANGKE! KENAPA KAMU GAK BILANG-BILANG KALAU MAU KE LONDON, AKU IKUT!"

Valdy hanya tertawa melihatnya. Tentu saja dia marah, selain London itu kota yang keren, disini pula terdapat Blogger idolanya, yang kini sedang berada di depannya.

"Sorry, bukan aku gak ngasih tau tapi tiketnya mahal tau! Udah ah!" Valdy membalas line dari Shania, lalu setelahnya dari Arraufar, Viny dan semuanya. Tentu menurut Valdy ini menyenangkan ketika masih bisa berhubungan dengan teman walau jarak tak memungkinkan, berbeda dengan si brengsek di depannya yang pergi tanpa sama sekali memberitahu temannya.

"Senyum-senyum sendiri lu." kata Zaki.

Valdy tersenyum lebar. "Iya, ini temen-temen gue pada nge-line, seneng juga masih berhubungan sama temen walau jarak tak memungkinkan."

Sindiran itu membuat Zaki terdiam, ia memikirkan teman-temannya di Indonesia dan juga tentunya Shania. Namun setelah Valdy berkata seperti itu, Zaki tak mampu untuk bertanya, padahal ia sangat mau.

"Gue nyesel juga gak ngasih tau kalian kalau gue mau pergi kemana. Gue gak bilang-bilang ke London karena gue gak mau buat Shania terus memikirkan gue dan tentunya gak mau buat Shania menyusul gue kesini. Semua udah terlanjur."

"Tapi sayang Zaki, Shania justru lebih memikirkan lu, dia udah ngira lu udah gak ada di dunia ini, gak ada jejak."

"Gue emang tolol, memang seharusnya gue ngasih tau Shania dan kalian kalau gue mau pergi ke London. Makanya gue membuat blog untuk melampiaskan rasa menyesal gue ke kalian dan rasa rindu gue ke Shania."

"Lu gak tolol, namun sedikit dibawahnya, bego. Lu bego karena lu mikirin cuman ntar bagaimana Shania. Gue tau lu mikir jika Shania tau lu disini, dia bakal nelepon lu terus dan tentu itu mahal banget, dia mungkin bakal liburan kesini untuk bertemu lu, lu gak mau buat dia repot secara kalian emang belum pacaran, dan yang paling ekstrim Shania ikut lu kesini dan menimba ilmu. Tapi menurut gue, lebih baik Shania tau dimana diri lu sekarang, daripada dia merindu dengan seseorang yang tak pasti lagi apa ada atau tidak di dunia ini." kata Valdy panjang lebar.

Valdy melanjutkan. "Btw, bagus kan omongan gue tadi ?"

Zaki hanya diam mendengarnya dan dalam hati iya mengiyakan apa yang Valdy katakan.

Lalu pikiran Zaki kembali ke masa itu.

***

Beberapa Tahun Lalu
Jakarta, Indonesia

Zaki sedang bermain poker di kelas bersama teman-teman di kelas sepuluhnya, sementara Valdy yang menjadi panitia penyelenggara permainan tersebut akan memberi hadiah kepada yang menang yaitu Nomor telepon Shania dan PIN BBM-nya yang baru, karena Shania membuat laki-laki di kelas tertarik kepadanya, kecuali Zaki dan Valdy, karena Zaki lebih menyukai Viny yang berada di kelas lain sementara Valdy tau bahwa Shania adalah sepupunya.

Zaki tidak membutuhkan nomor teleponnya dan ia menganggap ini hanyalah untuk unjuk kebolehannya bermain poker karena ia sendiri berlatih dengan raja poker se-angkatan, Arraufar.

Entah kenapa ia tertarik dengan permainan ini, padahal Shania adalah rival abadinya dalam hal ranking se-angkatan, semester lalu Zaki berhasil menempati peringkat 4 sementara Shania dibawahnya.

Ini semua terjadi karena Shania merasa iri dengan nilai Bahasa Inggris Zaki yang selalu mendapat nilai diatas 95 dan untuk menunjukkan bahwa ia pintar, Shania menantang Zaki untuk siapa yang berada paling depan di ranking satu angkatan. Zaki menerimanya, walaupun ia berpikir kenapa nilai Bahasa Inggris yang menjadi tolak ukur dan ternyata setelah di selidiki Shania sangat menyukai Bahasa Inggris dan tak rela siapapun untuk mendapat nilai diatas nilainya.

"Zaki." panggil Shania saat istirahat setelah pelajaran Bahasa Inggris.

"Hmm ?"

"Lu jago juga bahasa inggris ya."

Zaki hanya tertawa kecil. "Gak jago juga sih, di rumah gue juga suka ngobrol inggris sama Nyokap."

Shania pun merasa laki-laki di depannya ini sombong sekali. "Kalau begitu, gimana kalau kita tanding ?"

"Hah ?"

"Kok, hah ? Tanding! Siapa yang peringkatnya paling tinggi di semester ini!" seru Shania, sementara Zaki hanya terdiam.

"Taruhannya ?"

"Gak ada! Pokoknya begitu! Yang menang gak dapet apa-apa tapi yang kalah juga, cuman tanding kok." jelas Shania.

Zaki hanya mengangguk karena tak mengerti. Walau Zaki pikir persiangan ini tidak ada hadiah tapi tampaknya akan berjalan seru.

Lalu Zaki sekarang sedang memegang kartu, entah kenapa ia berusaha menang padahal ia tak berniat dengan hadiahnya. Ia lalu dengan sigap bermain layaknya master seperti Arraufar yang memang namanya sudah menggema di seantero sekolah sebagai raja per-poker-an.

Dan akhirnya, Zaki kalah oleh Aceng.

"Yes, dapet nomor HP Shania sama pinnya!" seru Aceng namun suaranya terdengar oleh satu kelas, Valdy langsung menutup mulut, namun tak ada yang peduli dengan teriakan Aceng lalu Valdy menyelipkan kertas ke kantong baju Aceng lalu pergi keluar. Untungnya Shania tidak ada di kelas.

Ia tau bahwa Shania banyak sekali yang suka, bahkan mengalahkan popularitas Ketua OSIS saat itu, Kak Melody dan wakilnya Veranda yang kini menjadi pacar pertamanya di London. Ia juga bingung mengapa sekolah ini tidak melirik perempuan yang di sukainya waktu itu, Viny, padahal ia tak kalah cantik dari 3 perempuan itu.

Saat keluar, ia melihat di lapangan ramai sekali kerumunan lalu dari lantai atas ia melihat ada seorang laki-laki yang berlutut di depan Shania, ia tak tau siapa laki-laki itu yang pasti dia adalah anggota OSIS, sama dengan Shania.

"Itukan Zildjian ? Cowok yang ganteng itu!" kata perempuan yang baru datang dan berdiri di sebelah Zaki.

"Eh ?"

"Ahahahaha, maaf-maaf ngomong sendiri." kata perempuan yang Zaki tidak tahu namanya.

Lalu mereka berdua terdiam dan ketika Zaki melihat Shania dan Zildjian berpelukan, rasanya ia ingin memeluk perempuan disebelahnya ini namun ia sadar ia bukan siapa-siapa.

"Mereka jadian juga." kata perempuan itu. "Btw nama aku Ayana."

"Zaki." lalu mereka berjabat tangan. Kesan pertama Zaki melihat Ayana adalah perempuan ini terlihat ngantuk dan Zaki pikir Ayana begadang semalaman mengerjakan tugas.

"Kamu ngantuk ?" tanya Zaki.

"Eh engga, emang mata aku sayu begini jadinya kaya orang ngantuk." ujar Ayana yang membuat Zaki malu.

Namun sayang, Ayana harus pindah diakhir semester 2 ke Jepang karena ikut orang tuanya dan di semester 2 itulah Zaki kembali unggul atas Shania, 2-0.

Shania menjadi agak menjauh dari Zaki disaat Shania sudah bersama Zildjian, walaupun di kelas XI mereka berpisah, tapi keuntungannya ia kembali sekelas dengan Valdy dan disaat yang sama Arraufar dan Viny juga berada di kelas yang sama. Lalu ia berkenalan dengan Alex, Dhika, Taufan, Sinka, dan Yuvia.

Sesekali Zaki dan Shania bertemu, Shania hanya diam dan lanjut berjalan seakan ia tak kenal Zaki dan pikir Zaki mungkin Shania kesal karena kalah untuk kedua kalinya. Saat berpacaran dengan Zildjian, Shania tak lagi naik MRT untuk pulang ke rumahnya karena selalu diantara pacarnya itu menggunakan mobil. Sementara Zaki dan teman-temannya masih setia dengan sepeda.

"Emang keren tuh bocah, ke sekolah naik mobil, boro-boro gue naik mobil, motor ajah gak punya." kata Alex yang iri kepada Zildjian.

Dan di kelas XI pun, Zaki mengakui kehebatan Shania karena perempuan itu berhasil menjadi ketua OSIS yang baru menggantikan Kak Melody, walaupun sangat aneh karena wakilnya adalah pacarnya sendiri, Zildjian. Zaki golput dalam pemilihan ketua OSIS karena ia masih mau Kak Melody yang menjabat, selain baik, ia adalah mantan Abangnya Zaki, Reyhan yang sudah lulus duluan.

Zaki pun pusing sama kebersihan kelasnya, karena ia dan teman-temannya mendapat kelas yang lumayan kotor, lantainya pun walaupun sudah di pel berkali-kali tetap saja meninggalkan noda yang membuat para guru marah, padahal itu sudah di bersihkan.

Akan tetapi, saat festival budaya justru kelasnya lah yang banyak menuai pujian dari para guru, ini tak terlepas dari konsep yang diusung Zaki, Valdy, dan Viny dan dukungan dari wali kelasnya, Pak Tulus Abadi.

Namun, yang paling berkesan menurut Zaki di jaman SMA-nya adalah ketika dinner dengan Shania, sempat ia ketar-ketir karena restoran yang dipilih Shania mahal namun untungnya itu punya Ayahnya Arraufar sehingga Zaki mendapatkan diskon bahkan tidak membayar.

Ketika Shania mengobrol dengannya, tertawa, bercanda, bercerita di temani suara ombak yang mengulung menabrak bebatuan dan klimaksnya adalah ketika Shania meminta Zaki untuk menggenggam tangannya dan Zaki melakukannya tanpa ragu.

Semenjak saat itu, Zaki melupakan persaingannya dengan Shania dan mulai menyukai perempuan itu.

***

London, UK

Zaki hampir menangis ketika menceritakan kisah SMA kepada temannya ini, Valdy pun hanya terdiam mendengar, menyimak, dan mengoreksi jika ada yang salah dari ceritanya.

"Gue melakukan dosa besar kepada kalian, yaitu pergi diam-diam ke London tanpa kabar." kata Zaki. "Gue takut ajah nyusahin Shania seandainya dia tau gue ada di London."

"Justru dia lebih susah karena selalu memikirkan dimana lu berada dan bagaimana keadaan lu sekaranag. Sampai saat ini dia gatau lu dimana." kata Valdy.

"Jadi, Shania sekarang gimana ?" tanya Zaki.

Valdy menggelengkan kepala. "Sorry, dia udah punya pacar baru."

Zaki terdiam dan hanya diam yang bisa ia lakukan, namun Zaki pikir itu bukan masalah karena memang Zaki dan Shania belum pacaran dan mempunyai pacar adalah wajar karena dirinya sendiri pun sudah punya.

"Begitu...." kata Zaki gantung. "Gue mau jujur, sebenarnya juga udah punya pacar disini."

Valdy hanya tersenyum. "Pantes ajah gak ngehubungin kita-kita, udah punya pacar toh."

"Hahaha engga juga." kata Zaki sambil membuang ingusnya.

"Siapa nih ? kenalin dong." tanya Valdy sambil mengambil botol minumannya, keadaan sudah mencair dan Valdy tau harus melakukannya karena dengan begini masing-masing dari mereka sudah punya pacar tapi sayangnya mereka berdua masih merindu satu sama lain.

"Veranda."

Valdy memuntahkan air yang ia minum, hingga airnya berceceran di lantai Zaki "Hah ?!"

"Iya, Veranda, cewek yang dulu suka ke lu. Dia pacar gue." jawab Zaki.

"Kak Veranda di London ?" tanya Valdy lagi.

"Iya."

"Yang bener ?"

"Iya."

"Suer ?"

"Iya."

"Serius ?"

Zaki melempar bantalnya ke temannya itu."IYA!!!!!!"

"Hahaha, hoki juga lu dapet yang cantik begitu."

Zaki hanya tersenyum. "Walaupun di hati terdalam gue masih milik Shania."

"Tapi mungkin gue yakin kalian udah saling melupakan disaat masing-masing dari kalian udah punya orang yang 'baru'" kata Valdy, membuat Zaki terdiam.

Valdy tak mau membuat suasana galau kembali. "Oke, begini, gue udah sampe London, gimana ajak gue jalan-jalan ?"

Zaki hanya mengangguk, lalu mereka turun ke bawah.

"Lama banget, lu berdua ngapain ?" tanya Wisnu yang sedang bermain kartu remi dengan Damien.

Lalu Zaki tersenyum lebar. "Main cangkul gak seru ah, gimana main poker ?"

Valdy juga tersenyum mendengarnya. "Iya, poker, Damien, pouvez-vous jouer au poker ?"

"Ya, aku bisa!" kata Damien dengan bahasa Indonesia seadanya.

Lalu mereka berempat bermain poker.

"Deja vu!" seru Zaki, namun kini pokernya tanpa hadiah.

***

Jakarta, Indonesia

Shania terbangun dari tidurnya dan jam menunjukkan pukul 8 malam, ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu sehabis itu ia membuka laptop dan mengecek notifikasi handphone-nya.

"Sorry, bukan aku gak ngasih tau tapi tiketnya mahal tau! Udah ah!" balasan dari Valdy, ia kesal dan hanya membacanya lalu sekarang ia akan membaca-baca blog Sanzacks sambil menunggu Adam menghubunginya.

Walaupun sudah lama blog itu tidak melahirkan tulisan baru, namun Shania tak pernah bosa membacanya. Baginya membaca blog itu adalah rutinitasnya sehari-hari jika punya waktu senggang walaupun Adam tidak menyukai blog Sanzacks ini, katanya terlalu lebay tapi menurut Shania itu adalah tulisan yang sangat bagus.

Setelah satu jam membaca blognya, ia langsung turun dan melihat Ibunya sedang menonton televisi sendiri.

"Ma." sapa Shania lalu duduk di samping Ibunya.

"Udah makan ? Cepet sana makan ntar sakit walaupun kamu jarang sakit sih kalau gak makan sekalipun." kata Ibunya sambil terus mengganti channel.

"Iya nanti aku beli nasi goreng ajah yang di Blok I." jawab Shania.

"Sekalian beliin Mama ya, eh kamu gak takut sendiri ? Biasanya kamu pergi beli nasi goreng sama siapa itu namanya ? Zaki ya ? Kemana dia ?"

Seketika Shania diam ketika Ibunya mendengar nama Zaki. Pikirannya melayang ke masa lalu ketika ia sering makan bersama Zaki di tempat nasi goreng itu, kadang Zaki yang membayarnya, terkadang Shania yang membayarnya karena Zaki lupa membawa uang.

"Alasan kamu ajah biar nanti di bayarin." keluh Shania ketika mereka selesai makan nasi goreng.

"Eh beneran gak bawa kok. Kamu jangan ngambek gitu ah." kata Zaki sambil mencubit pipi Shania.

"Bohong."

"Engga."

"Yang bener ?"

"Iya."

"Beneran ?"

"Iya Shania!"

"Engga!!!"

"Beneran Shania, aku gak bawa uangnya, entar deh aku ganti uang Shania." kata Zaki.

Shania langsung terdiam ketika Zaki menggunakan kata ganti dengan namanya sendiri.

Zaki melanjutkan. "Kok diem ?"

"Eh iya-iya, gausah diganti deh."

"Yaudah, kenapa Shania tadi cemberut ?" lalu Zaki mengusap kepala Shania. "Nanti aku bawa uang deh, biar Shania gak bayar lagi."

Shania terdiam memikirkan masa lalu yang kini terus hinggap di kepalanya, baginya semua tentang Zaki tak akan hilang dan akan hilang jika ia mati nanti.

"Kok diem ajah ? Duh anak Mama ini sekarang kebanyakan melamun ya." kata Ibunya.

"Aku gak tau dia dimana sekarang Ma." kata Shania pelan.

"Loh kok gitu ? bukannya kalian deket ? kamu sempet pacaran sama dia kan sebelum sama si Adam itu ?" tanya Ibunya.

Shania hanya menggeleng pelan, lalu Ibunya merangkul Shania. "Mending kalau dia pergi tanpa kabar, kamu lupain ajah dia, cowok yang begitu gak pantes buat dicintai."

Lalu Shania bangkit dari duduknya dan pergi keluar. "Aku pergi beli nasi goreng dulu ya, Mama yang pedes apa engga ?"

"Engga!"

Shania lalu melangkah keluar dan kembali merajut kenangan lama tanpa sosok laki-laki yang membuatnya susah lupa.

***

3 Hari Kemudian 
London, UK

"Makasih ya semua, gue pulang dulu." kata Valdy ketika Zaki, Wisnu, dan Veranda mengantarnya ke Bandara.

"Iya sama-sama, kapan-kapan kesini lagi ya." kata Veranda.

"Hmm, iya deh iya." ujar Valdy lalu melanjutkan. "Zaki, kapan lu ke Jakarta ? Anak-anak pada kangen tuh."

"Iya, nanti." Walaupun Zaki tak tahu kata nanti itu batasnya kapan.

Valdy tau bahwa keluarga Zaki sudah pada pindah, Abangnya berada di Paris dan kedua orang tuanya membuka usaha di Florence, Italia.

"Okelah, bye!" kata Valdy sambil berjalan ke dalam.

***

Indonesia

Shania sekarang sudah berada di bandara untuk menjemput sepupunya. Ia merasa malas karena harus menjemput sepupunya itu. Sambil menunggu, ia makan dan minum di sebuah kedai yang tak jauh dari ruang tunggu kedatangan.

Saat ia makan, matanya tak sengaja menangkap seseorang yang tak asing lagi baginya, yang pernah menjadi bagian hidupnya. Lalu tak lama kemudian mereka bertatapan dan saling tersenyum satu sama lain, orang itu pun menghampiri Shania.

"Hmm, Apa kabar ?" kata Zildjian sambil menarik kursi untuk duduk.

"Baik, kamu ?" tanya Shania.

"Biasa ajah." jawab Zildjian sambil membetulkan posisi duduk.

Lalu mereka berdua terdiam, Zildjian berjalan untuk memesan secangkir kopi, saat kembali dengan kopi di tangannya ia tersenyum lalu bertanya. "Denger-denger kamu mau kuliah di Prancis ya ?"

"Iya, kok bisa tau ?"

"Ya tau ajah, ada yang bilang juga sih." kata Zildjian lalu menyesap kopinya yang panas. "Sekarang, masih jomblo apa gimana nih ?" lanjutnya.

"Hahaha, engga aku engga jomblo." kata Shania mencoba seasik mungkin, padahal ia lebih memilih bertemu Zaki disituasi begini daripada bertemu Zildjian.

"Sama siapa  ? Zaki ?" tanya Zildjian lagi.

Shania terdiam sambil mengaduk minumannya, tak bisa menjawab.

"Aku tau kalau kamu ngaduk-ngaduk minuman begitu tandanya lagi gak semangat, atau karena kamu engga mau ngobrol sama aku ?" kata Zildjian.

"Eh engga kok, biasa ajah, bukan sama Zaki." jaawab Shania.

"Lho kok ?"

"Iya begitulah."

"Sekarang Zaki dimana ?"

Shania menggeleng pelan dan berusaha menahan tangisnya, ia tau bahwa saat ini bukan yang tepat untuk menangis, lalu Shania berdiri. "Udah ya aku kesana dulu, kebetulan yang aku jemput udah mau datang."

Tak lama berselang. Shania melihat Valdy yang sedang terlihat mencari-cari.

"Woy!" seru Shania kepada sepupunya itu.

"Eh ketemu juga, aku cariin dari tadi tapi gak nongol-nongol." kata Valdy.

"Hehehe, yaudah yuk langsung."

Mereka berdua menuju ke mobil, Valdy menawari dirinya untuk mengemudikan mobil, namun Shania menolak. "Kasihan, kamu capek."

Saat mobil dihidupkan, Shania terdiam lalu tiba-tiba ia menghujamkan kepalanya ke bahu Valdy seraya menangis.

"Shan, kamu kenapa ?" kata Valdy bingung kenapa perempuan disampingnya tiba-tiba menangis.

Namun Shania tidak menjawab dan terus menangis, Valdy tau situasi ini, mungkin Shania bosan terus-menerus ditanya dimana Zaki ? Bagaimana Zaki ? dan itu membuat Shania gusar. Namun ia harus terus menerus merahasiakan dimana Zaki berada, karena ia sudah menyusun skenario yang sangat panjang agar mereka bertemu.

"Udah Shania, kamu kan udah punya Adam, lebih baik kamu lupain seseorang yang emang udah pergi untuk alasan yang tidak jelas, pergi tanpa kabar dan diam-diam layaknya ninja."

Shania lalu mengangkat kepalanya. "Tapi kan, ya begitulah...." Shania lalu menangis lagi, tak terhitung berapa menit Shania menangis, lalu Valdy meminta Shania bertukaran posisi, kini Valdy mengemudikan mobilnya, sementara Shania masih terus menangis namun tidak lagi di bahu sepupunya itu.

Sepanjang perjalanan, Shania terus bercerita sambil menangis tentang Zaki, semuanya sampai Valdy tau mengapa Shania tak akan melupakan Zaki.

"Sekarang cincin itu kemana ?" tanya Valdy.

"Masih ada di lemari aku, aku sembunyiin di tempat yang susah terlihat, tapi ya begitulah, susah aku ngelupain dia."

Valdy terdiam lalu memilih fokus untuk membuat langkah-langkah agar mereka berdua bertemu.

"Aku yakin kamu pasti ketemu si kampret itu!" kata Valdy.

Shania hanya tersenyum lalu menghidupkan radio dan kebetulan penyiar favoritnya sedang bersiaran.

****

4 Bulan Kemudian
Marseille, Prancis

"Jadi gimana ? Udah ikutin saran aku kan buat masuk PPI ?" tanya Valdy lewat sambungan telepon.

"Hmm, udah, terus aku harus gimana ?" tanya Shania balik.

Valdy merasa sudah seperti memerintah sepupunya tersebut, namun ia pikir ini demi kebaikan Shania juga. "Jadi yang paling aktif disana, semoga kamu kepilih jadi perwakilan ajah misalnya PPI kota kamu diundang di suatu forum."

"Ah, males banget deh tapi ya gak apa-apa deh, aku coba. Udahan dulu ya, tau sendiri biaya telepon mahal, Bye!" Shania memutuskan sambungan teleponnya.

Di Prancis kini sedang musim semi, musim dimana bunga-bunga mulai berkembang. Aroma daun-daun yang baru tumbuh menyapa pagi ini, dan burung-burung bernyanyi dengan nada yang indah. Kini Shania sudah 2 bulan lebih tinggal di Prancis, untuk masalah bahasa ia tak mengalami kendala, namun untuk cuaca, ia sebisa mungkin beradaptasi. Musim semi adalah latihannya sebelum musim-musim selanjutnya.

Lalu ia melihat laki-laki di sebelahnya yang sedang melihatnya juga.

"Shan, mau ajak aku kemana nih ?" tanya laki-laki itu.

"Udah Dam, ayo aku bawa kamu keliling kota ini." jawab Shania sambil menarik tangan Adam.

Shania perlahan sudah lupa apa tujuannya ia ke Prancis. Zaki sudah mulai luntur di dalam hatinya. Ia sudah melupakan apa tujuan awalnya ke Prancis.

***

London, UK

"Kampret!" keluh Zaki ketika ia harus mengerjakan tugas demi tugas yang diberikan kepadanya. Ia tidak bermasalah dengan tugasnya, namun di London, ia menjadi orang sibuk akhir-akhir ini, selain membantu Mang Adat berjualan, Zaki juga menjadi pengurus PPI kota London. Namun kini sang ketua sedang berpergian ke luar negeri, dan ini membuat Zaki harus mengurus perhimpunan ini sebisanya.

"Adam kampret bener dah, malah asik pergi jadi kasihan gue liat lu." kata Sidik.

"Udah gak apa-apa, lagian gue masih mampu kok." jawab Zaki.

"Mending ketuanya lu ajah deh, walaupun gue tau Adam emang bagus banget, cuman gara-gara pacarnya pindah ke Prancis, dia jadi sering kesana." jelas Sidik sambil memberikan botol minum kepada Zaki.

Zaki hanya mengangkat kedua alisnya tanda mengiyakan.

Hubungannya dengan Veranda pun masih berjalan lancar dan sudah berumur 6 bulan, namun akhir-akhir ini kesibukan yang memisahkan mereka berdua. Namun mereka berdua sebisa mungkin bertemu untuk sekedar makan siang bersama.

"Hai!" sapa Zaki ketika melihat Veranda.

"Makan yuk, aku laper." ajak Veranda yang langsung menarik tangan Zaki.

Zaki dibawa Veranda ke restoran Italia favoritnya. Veranda memesan Pasta Carbonara sementara Zaki memesan Ravioli yang di rekomendasikan Veranda karena Zaki tidak mengerti makanan Italia.

"Coba ajah deh, enak tau Ravioli." begitu kata Veranda.

"Yaudah deh."

Lalu mereka berdua mengobrol seperti biasa, yaitu mengobrol hal-hal yang tidak terlalu penting seperti mengapa es krim harus dingin, mengapa anak-anak suka balon, sampai mengapa cinta itu ada.

"Yang masalah cinta itu kayaknya gak ada jawabannya deh." kata Zaki sambil mengaduk granita lemonnya walaupun ia sangat rindu kepada cincau yang selalu ia beli di sekolah.

"Kenapa ?" tanya Veranda.

"Soalnya aku gak bisa jawab." kata Zaki sambil tersenyum.

"Aku berharap kita terus begini." ucap Veranda yang membuat Zaki terdiam. "Jangan sampai ada orang ketiga yang merusak hubungan kita!" lanjutnya.

"Jangan sampai." kata Zaki sambil menyuap granita lemonnya.

Veranda lalu meraih tangan Zaki dan menggenggamnya. Sementara Zaki hanya terdiam karena tidak biasanya Veranda begini. "Aku sayang kamu."

"Kamu udah setiap saat bilang begitu."

"Gak salahnya kan mengingatkan, siapa tau kamu lupa orang yang sayang banget sama kamu."

Lalu momen itu hancur ketika pelayan datang membawa pesanan mereka berdua.

"Grazie!" seru Veranda kepada sang pelayan.

***

Setelah makan, mereka berdua berpisah untuk pulang ke flat masing-masing. Saat dijalan pulang, Zaki melihat ada perempuan yang sedang menunggu lampu tanda menyebrang berwarna hijau dan tanpa ragu Zaki menghampirinya.

"Hey Naomi!" sapa Zaki sambil berdiri disampingnya.

"Eh, hey Zaki!" sapa Naomi kepada laki-laki yang sampai saat ini masih membuatnya gundah.

"Apa kabar ?" tanya Zaki dan ia sadar itu adalah pertanyaan paling standar di dunia ketika kita baru saja bertemu dengan orang yang sudah lama tidak bertemu.

"Biasa ajah, masih kaya terakhir kali kita ketemu." jawab Naomi sambil tersenyum.

Lalu mereka menyebrangi jalan bersama-sama. "Kamu belum punya pacar ya ?" tanya Naomi.

Wajar saja Naomi bertanya seperti itu karena faktanya selama 6 bulan ini tidak ada yang tau Zaki berpacaran dengan Veranda selain teman satu flatnya, Wisnu, Valdy, dan terakhir tentunya Veranda. "Menurut kamu ?" kata Zaki.

"Hehehe, kalau diliat sih belum. Soalnya kalau jalan sendirian mulu." kata Naomi. Zaki yakin memang Naomi belum tau bahwa Veranda berpacaran dengannya.

Lalu mereka berdua menyusuri jalanan kota London dan Zaki mengikuti kemana Naomi pergi dan menghiraukan jalan pulang. Naomi berjalan menuju stasiun kereta api bawah tanah atau diitu yang dikenal dengan Tube.

"Mau kemana ?" tanya Zaki.

"Ke Camden Town, beli oleh-oleh soalnya aku mau ke Indonesia." jawab Naomi dan ia sangat senang ditemani oleh Zaki.

"Loh kok aku baru tau ya soal Camden Town..." kata Zaki.

"Makanya jangan taunya Leicester Square doang!" kata Naomi.

Lalu mereka berdua sampai di Stasiun Camden Town, begitu mereka keluar dari stasiun mereka langsung melihat dan merasakan suasana pasar souvenir di sepanjang Camden Road. Mereka pergi ke Camden Market untuk membeli oleh-oleh seperti baju kaos, miniatur bangunan seperti Tower Bridge, Big Ben Clock, Box Telepon Merah dan lain-lain.

Di Camden Market harga souvenir yang di tawarkan cukup murah dan Zaki langsung membeli beberapa miniatur untuk menghiasi kamarnya.

"Zaki, maaf ya barang bawaan aku banyak." kata Naomi.

"Hahaha, iya gak apa-apa lagian gak terlalu berat." kata Zaki sambil menenteng setengah belanjaan Naomi.

Lalu mereka menyempatkan untuk makan di pujasera yang terdapat makanan Asia, Meksiko dan tentunya Inggris. Setelah makan, emreka memutuskan untuk langsung pulang karena hari sudah hampir mau malam.

***

Sesampainya di flat, Zaki langsung menuju kamarnya dan merebahkan diri. Ia sangat lelah hari ini. Namun ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya yaitu ucapan Veranda ketika mereka makan siang bersama. Baru pertama kali Veranda berkata seperti itu kepadanya, aneh, namun Zaki tak mau memikirkannya lagi terlebih bahwa itu memang tak seharusnya di pikirkan.

Mereka akhir-akhir ini jarang bertemu namun tentunya keduanya berusaha untuk saling menghubungi.

***

Veranda melihat Naomi baru saja pulang sedang barang bawaannya yang banyak, Veranda tau bahwa memang Naomi ingin pulang ke Indonesia, menengok orang tuanya dan adiknya. Namun ada yang berbeda dari Naomi, iya selalu senyum-senyum sendiri.

"Kamu kenapa ? Senyum-senyum sendiri." kata Veranda.

"Hehehe." Naomi hanya menyengir, ia senang karena ia bisa berjalan bersama Zaki lagi sekian lamanya, setelah kejadian waktu itu, ketika Naomi mengungkapkan perasaannya ke Zaki namun Zaki berkata sebaliknya dan sekarang ia yakin bahwa Zaki mulai tertarik kepadanya.

"Pasti kamu di temenin cowok ya perginya ?" tanya Veranda lagi. "Jarang-jarang aku liat kamu begini, biasanya kan diem mulu."

"Aku belum cerita ya tentang yang itu... Hmm..." kata Naomi.

"Cerita apa ?"

"Oke aku ceritain. Semuanya."

***

Keesokan harinya, Zaki terbangun dengan keadaan segar. Ia segera mengambil handphone-nya untuk mengecek pesan-pesan yang diterima-nya.

"Sore ngumpul ya di KBRI, jangan lupa, kebetulan di koperasi lagi banyak makanan." pesan dari Sidik, temannya sesama anggota PPI.

"Nanti kita ketemu ya, kita berdebat lagi! Aku tunggu di perpustakaan." kata Mason, temannya di kampus yang suka berdebat dengannya.

"Zaki, kita harus ketemu. Di cafe biasa, penting. Pas jam makan siang." pesan dari Veranda, lalu rasa segarnya hilang ketika membacanya pesannya. Jarang sekali Veranda mengirim pesan seperti itu dan mungkin ini adalah maksud dibalik sikap anehnya selama ini.

Ia berfirasat buruk tentang pesan ini.

***

"Hai, Veranda." kata Zaki menyapa pacarnya itu.

"Hai." sapa Veranda datar.

Zaki makin bingung dengan sikap Veranda akhir-akhir ini dan ia siap menerima apapun walau itu buruk sekalipun. Setelah ia memesan minuman, Veranda langsung menggenggam tangan Zaki lalu menundukkan kepalanya.

"Kamu kenapa ?" tanya Zaki, namun Veranda hanya menggelengkan kepalanya dan terus menggenggam erat tangan Zaki.

Lalu tak lama kemudian Veranda mulai bersuara. "Ternyata.... Hubungan kita ini mengorbankan satu orang yang sangat penting dalam hidup aku."

Zaki tidak mengerti. "Maksud kamu ?"

"Beberapa bulan yang lalu, sebelum kita jadian...." Veranda mengusap air matanya yang mulai jatuh.. "Naomi nyatain perasaannya kek kamu kan ?"

"I.. iyaa.."

"Kenapa kamu tolak dia ?" kata Veranda. "Kamu tau ? semenjak hari itu dia selalu merenung dalam diam, dia seperti gak ada semangat hidup. Di balik itu, aku bersenang-senang bersama laki-laki yang disayanginya, dicintainya, bahkan menolaknya. Mungkin kalau dia tau aku sama kamu pacaran, mungkin dia bakal mencincang aku habis-habisan."

Zaki terdiam, Veranda terus menggenggam tangannya. "Kenapa Zaki ? Kamu lebih milih aku daripada dia ? Selama ini dia masih mikirin kamu, masih suka berkhayal bahwa kamu akan selalu ada disampingnya. Tapi kemarin, dia terlihat senang, karena kamu menemaninya berbelanja oleh-oleh dan kemarin pula, untuk pertama kalinya, aku melihat dia pulang dengan raut wajah bahagia."

"Aku seneng dia bahagia dan ketika aku tanya siapa yang ngebuatnya bahagia, jawabannya kamu. Ketika aku tanya siapa yang selalu membuatnya diam, jawabannya kamu." Lalu ia terdiam sejenak. "Aku sayang sama kamu Zaki. Tapi entah kenapa setelah Naomi bercerita tentang kamu, rasanya aku adalah sahabat paling brengsek karena sudah diam-diam berpacaran dengan laki-laki yang dia cintai. Kayaknya, aku salah jatuh cinta sama kamu."

Zaki hanya terdiam dan otaknya kini dipenuhi pikiran-pikiran yang membuatnya ingin berteriak. Mungkin ini adalah yang dimaksud dari firasat-firasat buruk yang selalu muncul akhir-akhir ini.
"Jadi, mau kamu gimana ?" tanya Zaki, suaranya sangat pelan sekali.

"Kita pisah ajah ya ? ini demi kebaikan temen aku dan juga aku sendiri." Lalu Veranda melepaskan genggamannya dan mengusap kepala Zaki. "Makasih selama ini udah sayang sama aku, baik sama aku dan makasih untuk semuanya."

Lalu Zaki melihat Veranda pergi keluar Cafe, tak berniat mengejar apalagi mempertahankan hubungan ini karena ia tau bahwa akhirnya akan begini.

"Kenapa semuanya harus begini ?" gumam Zaki.

***

Ia kembali ke flatnya dan langsung rebahan di kasurnya. Ia memandangi layar handphone-nya, ia memandangi foto Veranda yang ia jadikan wallpaper. Lalu ia terdiam sejenak dan sampai pada akhirnya dia tau apa yang harus dia lakukan, melakukan rutinitas seperti dulu disaat dia belum mempunyai pacar...

To be continued....




Read more ...

Standupwrongway Fanfict JKT48 : Unreachable 2 (Part 6)

Friday, 27 November 2015
Bandung, Indonesia

Valdy sedang duduk-duduk santai di Taman Balai Kota sendirian. Ia duduk ditemani dengan sekaleng Green Sand dan novel yang hampir tamat ia baca. Entah kenapa ia mempunyai firasat buruk jika nanti bertemu Zaki dan jelas ia sudah berbohong dan berbohong adalah hal yang tak di sukai Zaki. Namun Valdy berpikir, berbohong bukan hanya tidak mengatakan yang sebenarnya, akan tetapi berbohong bisa juga melaui tindakan. Zaki selama ini menghilang entah kemana tanpa ada rasa dosa meninggalkan Shania disini dan Valdy pikir Zaki berbohong jika temannya itu mencintai Shania. Jika mencintainya, pasti Zaki akan memberitahu kemana ia akan pergi, selalu berkabar, dan menyempatkan waktu pulang untuk bertemu Shania.

Tapi ini tidak, tidak sama sekali.

Lamunannya buyar ketika nada dering handphone-nya berbunyi, ia langsung menempelkan handphone-nya ke telinga.

"Halo, who's there ?" tanya Valdy.

"Tiket one way buat lusa gak ada, adanya tahun depan selepas tahun baru, gimana ?"

"Tahun baru ya..." Valdy berpikir apakah dia ada acara atau tidak, ia memang akan pergi ke Jepang bersama adiknya dan Viny namun mereka pulang tanggal 3 januari. "Hmm, tanggal berapa ?"

"Tanggal 5, gimana ? Masalah harga jangan khawatir, gue bayar setengahnya deh buat lu."

"Oke bisa, tapi ntar gue nginep di rumah lu kan ?" tanya Valdy meyakinkan agar dia mendapat akomodasi yang baik. Bukan apa-apa, karena uangnya pasti menipis seiring dengan perjalanannya ke Jepang.

"Ah tenang ajah, kebetulan gue ada kamar kosong. Yaudah deh gue booking sekarang ya ?"

"Oke, makasih Wisnu!" kata Valdy.

"Sama-sama."

Valdy menuliskan email ke Zaki masih menggunakan email Viny tentang kepergiannya yang diundur sampai tahun depan. Lalu setelah itu Valdy bergegas pulang menaiki motor jadulnya mengingat ini bulan desember, musim hujan, dan kebetulan langit sedang mendung dan pulang keadaan yang basah adalah hal yang sangat buruk.

***

London, UK

"Gimana, capek kan ?" tanya Mang Adat sembari membereskan peralatan.

"Lumayan, keren kok bisa ramai begini ya." kata Zaki sambil mengambil botol minum.

"Hahaha, oke kita beres-beres sekarang."

Zaki memulai hari pertama kerjanya dan layaknya pelayan yang baru sehari bekerja, ia melakukan banyak kesalahan namun itu tidak besar. Asep, laki-laki asal Garut yang menjadi rekannya selalu membantu Zaki dan memakluminya, berbeda dengan temannya asal Maluku, Alle, yang selalu aktif memarahi Zaki ketika ia melakukan kesalahan.

"Heh, kerja yang benar! Mau ku potong tangan kau hah atau apa aku minta ke Mang Adat untuk potong gaji kau ?"

Namun Alle di luar jam kerja sangat berbeda sekali, ia menjadi ramah dan Zaki tertawa ketika Alle berbicara bahasa sunda dengan Asep. Kini mereka bertiga sedang duduk-duduk di taman.

"Zaki, kamu asli mana ?" tanya Asep sambil menghidupkan rokoknya. "Mau ?"

Zaki mengangguk dan mengambil sebatang kretek, ia tak sanggup menolak karena ini demi mempererat hubungannya denagn Asep dan Alle. Lalu ia mengingat kata-kata Ayahnya waktu dulu. "Papa suka bingung sama orang Indonesia, dengan bermodalkan rokok, orang yang gak kenal sama kali malah seperti udah kaya ketemu kawan lama ajah ngobrolnya. Ajaib memang rokok itu."

"Ayah saya asli Padang, Ibu saya asli Jakarta, tapi saya lahir di Bandung." jawab Zaki sambil menghisap kreteknya.

"Oh gitu, berarti bisa ngomong sunda atuh nya ?" tanya Asep.

Alle meminta lighter kepada Asep. "Kalau boleh tahu, kau ke sini ada urusan apa ? Bukannya di Jakarta enak ?"

"Kuliah." jawab Zaki.

"Keinginan sendiri ? Apa paksaan ?" tanya Alle lagi.

"Sendiri."

"Baguslah. Aku punya teman dia kuliah disini karena dipaksa Ibunya, sekarang, aku lihat dia senang mabuk-mabukkan, jadi gambler dan gembel disini. Kasihan aku lihatnya, mau ku tolong entar dia keenakan." jelas Alle.

"Kalau Bang Alle sendiri, ke London kenapa ?" tanya Zaki. "Merantau demi kehidupan yang lebih baik ?"

Zaki melihat bahwa tatapan Alle tidak senang dengan pertanyaannya, namun Alle hanya tersenyum dan menjawab santai. "Walaupun penampilan aku begini, asal kau tahu saja, aku mahasiswa S2 Hukum disini, lewat beasiswa dan kerja sama Mang Adat buat nambah uang saku."

Zaki tidak menyangka, laki-laki berumur 26 tahun ini yang sedang duduk di depannya adalah mahasiswa S2 hukum. Lalu seakan tak mau kalah dengan Alle, Asep pun memberitahu dirinya siapa. "Urang teh sama kaya Alle, mahasiswa S2, tapi saya jurusan kehutanan. Kebetulan saya kesini bukan karena beasiswa, tapi disuruh belajar lagi sama kantor dan dikasih fasilitas disini. Tapi hidup tanpa tantangan ya ngapain hidup, jadinya saya kerja di Mang Adat nyari uang saku tambahan walaupun sebenarnya uang saku dari kantor udah cukup."

Asik mereka bercerita tentang diri masing-masing, mereka secara tak sadar sudah mengobrol lebih dari satu jam. Lalu mereka bubar dan Zaki melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore. Sebaiknya ia jalan-jalan dengan Veranda kebetulan sedang malam minggu.

***

"Kamu kelihatan capek, abis ngapain ?" tanya Veranda yang berjalan di samping Zaki.

"Oh iya aku lupa ngasih tahu, aku kerja di foodtruck di Fulham." jawab Zaki.

"Di Mang Adat ?" tanya Veranda.

"Loh kok kamu tau ?" Zaki tidak menyangka bahwa Veranda tahu ia kerja di Mang Adat.

"Di Fulham, foodtruck yang terkenal tuh punya Mang Adat. Aku tau dia dulu langganan kamu eh gak nyangka ternyata dia pindah kesini."

"Kamu tau dari mana aku suka beli siomay di Mang Adat dulu ?" tanya Zaki.

Veranda terdiam sebentar lalu tersenyum. "Itu rahasia!"

Zaki langsung mencubit pipi Veranda dan perempuan disampingnya tak mau kalah dengan mencubit hidung Zaki. Mereka tidak menghiraukan pejalan kaki lain dan serasa sepanjang trotoar hanya milik mereka berdua, mereka terus bercanda sampai akhirnya lelah satu sama lain.

"Kemana nih ? dari tadi kita di jalanan cuman ribut doang. Romantis dikit dong." tanya Veranda.

Zaki memegang tangan Veranda. "To place the first time i kiss you ?"

Veranda hanya diam dan menjawab. "Why not, come on!"

Veranda lalu menarik tangan Zaki.

***

Jakarta, Indonesia

Shania membuka pintu rumahnya dan melihat seorang laki-laki sudah berdiri dihadapannya, Shania tersenyum melihatnya sudah tiba.

"Udah masuk ayo." Shania menarik tangan laki-laki itu. "Lagian aku sendirian kok di rumah."

Shania bersama laki-laki itu sekarang berada di ruang tengah, ia mematikan TV dan mengobrol dengan laki-laki itu.

"Jadi gimana ?" tanya laki-laki itu.

"Udah daftar, tapi testnya bulan maret, masih lama." jawab Shania.

"Yakin ?"

"Iya yakin."

"Prancis gak sebatas Paris, ada banyak kota disana. Lille, Maseille, Lyon, Nice, Bordeaux, Strasbourg, Toulouse, Digne-les-bains, Mulhouse, Montpellier dan banyak lagi." kata laki-laki itu.

"Bagusnya yang mana ?"

"Marseille, Montpellier ada di selatan prancis. Le Havre ada di utara. Paris sama Auxerre di tengah-tengah. Kalau Marseille dekat sama Italia dan Monako, Le Havre dekat sama Inggris. Bagus Marseille menurut aku."

"Valdy, serius dimana bagusnya ?" tanya Shania.

Valdy hanya menjawab ringan. "Kenapa gak mau di inggris ajah ? London gitu."

"Yah aku keburu daftar untuk beasiswa ke Perancis. Telat nih ngomongnya aku juga mau di London sebenarnya."

"Hmm, yaudah bagusnya di Marseille, ada temen aku disana kebetulan"

Valdy masih merahasiakan dimana Zaki berada kepada Shania, namun ia sebisa mungkin akan mendekatkan kedua manusia itu kembali. Terdengar jahat tidak memberitahu Shania, namun ini juga demi Zaki. Valdy makin pusing dengan situasi ini. Bodohnya, ia spontan mengatakan Marseille yang jaraknya di selatan Perancis, itu malah makin menjauhkan.

"Jadi kan ikut ke Jepang ? Arraufar punya apartemen di Hokkaido. Reunian kecil-kecilan lah." ajak Valdy.

Shania terdiam sejenak. "Aku udah punya janji lain di malam tahun baru."

"Oh begitu, sama siapa ?"

"Sama Adam"

Valdy mengangkat kedua alisnya. "Kalian balikan ?"

Shania mengangguk mantap. Valdy makin pusing dengan situasi sekarang.

***

From : Ratu Vienny

To : Ichsan Zaki

Subject : Maaf.

Maaf Zaki, ternyata tiketnya adanya buat tanggal 5 januari. Gak apa-apa kan ?

Zaki hanya menghela nafas membaca email dari Viny, berarti ia harus menunggu sekitar sebulan untuk kedatangan mantan kecengannya dulu. Zaki tidak membalas email itu dan bergegas mandi dan tidur karena sudah lelah sekali untuk hari ini dan besok ia harus bekerja lagi.

***

Malam tahun baru...

Zaki, Veranda dan banyak orang lainnya sedang berkumpul di sisi sungai Thames untuk menunggu hitung mundur pergantian tahun. Mereka cukup beruntung bisa berada di dekat London Eye yang akan menjadi tempat peluncuran kembang api. Wisatawan diseluruh dunia banyak yang berkumpul di Tower, Westminster, Jembatan London dan Jembatan Blackfriars. Karea jika tidak dapat tempat, mereka berdua terpaksa harus menonton pergantian akhir tahun di layar besar yang terdapat di Trafalgar Square dan Alun-Alun Parliement.

Tepat saat Big Ben Clock berdentang, kembang api itu diluncurkan. Ia melihatnya takjub, berbeda sekali dengan perayaan Tahun Baru di Monas, di London sangat berbeda sekali. Hawa dingin seakan terusir karena melihat keindahan luncuran kembang api itu.

"Bagus kan, Sayang ?" tanya Veranda sembari menggenggam tangan Zaki.

"Iya, gak kaya yang di Monas, beda banget." jawab Zaki tanpa memikirkan nasionalisme.

Mereka berdua kembali menyaksikan kembang api yang berdurasi sekitar 8 menit itu.

***

Shania sedang berada di Singapura, bersama Adam tentunya. Mereka resmi berpacaran kembali dan Shania tak kuasa menolak Adam. Adam sudah berkorban banyak untuknya, laki-laki itu selalu mengabari dirinya dan menanyakan keadaan Shania. Menurutnya, itu adalah bentuk perhatian yang kecil di mata orang lain, namun itu sangat besar bagi Shania, terlebih dirinya yang selalu merindukan orang yang tak tau pergi kemana.

Shania juga mencoba fokus pada hubungannya dengan Adam, walaupun demikian bayang-bayang Zaki masih hinggap di otaknya. Ia mencoba melupakan Zaki karena ia berpikir bahwa mungkin Zaki sudah melupakannya dan sudah menemukan perempuan yang baru.

Mereka belum berpacaran, tapi hubungan mereka berdua terasa sangat dekat. Kegiatan yang mereka lakukan bersama satu per satu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bagi mereka status hanya simbol, namun waktu yang mereka lalui adalah bukti. Bukti kuat akan rasa rindu itu muncul.

"Shan, bentar lagi udah jam 12 nih." kata Adam sambil menggenggam tangan Shania.

Shania tersenyum. "Iya, terus ?"

"Hmm, ayo jalan ke depan dikit lagi ajah." ajak Adam yang langsung di iyakan Shania.

Mereka melihat kembang api yang sangat indah tentunya di Marina Bay. Di saat berdua, Shania begitu senang dengan perlakuan Adam yang begitu mengistimewakannya. Namun ada satu hal lagi yang tak akan dilupakan Adam.

Adam mengelus kepala Shania dan langsung memegang pipi perempuan itu dan menciumnya. Itu adalah ciuman pertama Adam dan Adam pikir itu adalah ciuman pertama Shania. Hanya hitungan detik, namun itu sangat berkesan.

Shania terkejut dan otaknya serasa beku ketika Adam menciumnya. Dengan ringan ia menerima ciuman itu, namun di sisi lain entah kenapa ia mengingat sesuatu setelahnya.

Mengingat kembali sesuatu yang berusaha ia lupakan.

***

5 Januari

Valdy mencoba bertahan dengan suhu yang dingin di London. Ia sudah tiba dan kini sedang menunggu Wisnu yang datang menjemputnya. Sambil mengaduk kopi hangat yang ia beli, ia melihat sekelilingnya  yang terlihat ramai dan Valdy mengaduk dengan kecepatan yang sama dengan cara orang-orang berjalan. Selang 15 menit, Wisnu akhirnya datang dan ia meminta maaf karena terlambat dan macet adalah alasannya.

"Rame banget nih bandara, kenapa gak di Gatwick ajah lu mendaratnya ?" tanya Wisnu. Ia berpikir bahwa Gatwick lebih sepi daripada Heathrow

"Eh kampret, kan lu yang mesenin tiketnya." jawab Valdy. Lalu mereka berjabat tangan.

Mereka berdua mengobrol sebentar sebelum pergi karena Wisnu sempat-sempatnya juga memesan kopi.

"Jadi gue tidur di rumah lu nih ?" tanya Valdy kembali memastikan apakah ia akan mendapatkan akomodasi yang layak.

"Eh, kan gue udah janji, makan ntar gue masakin deh. Gue udah lama gak ketemu lu," kata Wisnu. lalu dengan cepat ia melanjutkan. "Oh, lu ke London ada urusan apa nih ? Liburan atau ada apa ?"

Valdy menjawab "Gue mau liburan ajah, btw, Trafalgar Square dimana sih ? gue mau kesana."

"Ah itu masa gatau dimana, mau kesana ? Bentar, gue anter lu dulu ke rumah gue, oke ?"

Valdy mengangguk. Ia hanya ingin melihat langsung Trafalgar Square, tempat yang terakhir kali menjadi bahan postingan Sanzacks di blognya, Valdy membacanya dan ingin sekali kesana dan mencari sebab kenapa Zaki sangat betah disini dan tidak memilih berlibur ke Indonesia.

***

Zaki sedang berada di cafe milik Wisnu dan kini matanya tertuju pada layar Laptopnya. Ia sedang mengerjakan paper yang diberikan dosennya. Sebenarnya jika mau, Zaki bisa mengerjakannya di ruangan super tenang dan senyap di perpustakaan kampusnya, namun ia berbeda, ia sangat senang mengerjakan sesuatu di keramaian. Cafe ini lumayan ramai dan ini adalah alasan bagus untuk mengerjakan tugas disana.

Sebulan ia berpacaran dengan Veranda sebulan juga ia merasa bahwa hidupnya kembali seperti semula, selalu berwarna. Namun ada satu hal yang membuat Zaki susah untuk melupakannya. Shania masih terus hinggap di kepala Zaki, namun ia mencoba melupakannya dan berpikir bahwa Shania sudah menemukan lelaki yang mencintainya daripada lelaki sepertinya yang pergi begitu saja tanpa berkabar.

Ia baru ingat bahwa ini sudah tanggal 5, namun Viny tak memberinya kabar lagi. Zaki pikir mungkin Viny tidak jadi ke London dan itu bukan sebuah masalah. Di Cafe sendiri ia tidak melihat batang hidung Wisnu, ia sempat bertanya kepada temannya yang juga bekerja disana, namun mereka tidak tahu.

Setelah selesai, ia bergegas pergi menuju flatnya agar bisa bermain PS dengan Lakhsan. Namun saat diperjalanan, ia melihat seorang perempuan sedang menunggu lampu hijau tanda menyebrang menyala dan setelah tahu siapa ia langsung menghampirinya.

"Hey!" sapa Zaki.

"Eh, Hey Zaki. Apa kabar ?" tanya Naomi.

"Biasa ajah, kamu ?"

"Hmm, sama. Biasa ajah."

Naomi tentunya belum tahu bahwa Zaki adalah pacarnya Veranda karena memang mereka berdua sengaja merahasiakannya. Tapi Veranda tidak tahu bahwa Naomi mencintai Zaki dan tepat beberapa bulan yang lalu, Zaki sukses mematahkan hatinya. Tapi, kini, Naomi sudah memaafkannya dan mencoba melupakannya, namun ia kembali bertemu dengan seseorang yang coba ia lupakan.

"Sendiri ajah ?" tanya Naomi.

"Iya, barusan dari Cafe deket sini buat ngerjain tugas."

Zaki melihat Naomi semakin cantik setelah mereka terakhir kali bertemu. Dengan pakaian musim dingin dan jaket tebal yang membebat seluruh tubuhnya, Zaki mengakui selera fashion Naomi memang bagus, tetapi ia cepat menyadari bahwa teman satu flat Naomi adalah pacarnya.

"Kamu belum makan ? Makan yuk, kebetulan aku belum makan." ajak Zaki.

Naomi hanya tersenyum. "Maaf aku udah ada janji sama seseorang." Naomi menolak dengan halus.

"Hmm, begitu, yaudah aku pulang dulu." kata Zaki lalu berbalik dan berjalan menuju flatnya.

***

Naomi hanya menghela nafas ketika ia berbohong kepada Zaki, ia tentu sangat ini makan bersama Zaki namun entah kenapa hati kecilnya menolak dirinya untuk bersama Zaki. Naomi tahu Zaki tidak mencintainya, namun sebaliknya, Naomi yang mencintainya. Ia sudah mencoba melupakannya, namun tak bisa.

"Yah, Zaki, sayangnya, aku masih cinta sama kamu." batin Naomi dalam hati, lalu ia juga berjalan kembali ke flatnya.

***

"Anjir, boleh juga rumah lu." kata Valdy.

Mereka sudah sampai di rumah Wisnu yang Valdy tidak ketahui dimana letaknya, lamun Wisnu berkata ini berada di daerah Covent Garden. Rumah Wisnu sendiri memiliki 3 kamar, 2 kamar mandi, dan tentunya lantai dan dinding.

"Hahaha, yaudah lu pergi beres-beres sana abis itu gue ajak lu ke cafe gue deh. Trafalgar Square besok ajah, males gue kalau hari ini." ujar Wisnu.

Setelah selesai berganti pakaian, Valdy dan Wisnu pergi ke cafe dengan berjalan kaki karena letaknya memang tidak jauh. Valdy melihat cafe Wisnu sebagai cafe pada umumnya, namun ini terlalu bagus untuk dimiliki orang yang berpaspor Indonesia.

"Yo, masuk, lu mau minum apa ntar gue buatin deh." ajak Wisnu.

Setelah dibuatkan minum, Valdy dan Wisnu mengobrol santai sampai seorang teman Zaki yang bekerja datang menghampiri.

"Eh, tadi ada temen lu tuh kesini nanyain lu. Dia ngerjain tugas disini gitu." kata temannya.

"Hah siapa ?"

"Yang tinggi itu, ah gue lupa namanya pokoknya dia nyariin lu, kayanya penting gitu." jawab temannya.

Valdy mencoba memikirkan kalimat "yang tinggi itu." Zaki memang tumbuh tinggi, namun mengingat rata-rata orang Eropa tinggi membuat Valdy beranggapan bahwa orang yang di maksud bukan Zaki.

"Oalah si kampret, yaudah gue ntar temuin dia. Makasih ya!" kata Wisnu kepada temannya, lalu ia menoleh ke arah Valdy. "Gimana lu ke tempat flat temen gue ?"

Valdy hanya mengangguk.

***

Jakarta, Indonesia

"Sayang, aku pulang dulu ya ke London." kata Adam lalu mencium kening Shania.

"Hmm, iya, hati-hati ya, paspor, tiket, dompet apa semua udah ?" tanya Shania.

Adam mengusap rambut Shania. "Udah kok tenang ajah."

"Kapan kamu kesini lagi ?" tanya Shania sambil memegang tangan Adam.

"Pas kamu udah di Prancis, aku bakal temuin kamu ya."

"Doain ajah semoga dapet beasiswa-nya ya sayang! Yaudah sana cepetan." Shania mendorong pelan Adam.

"Oke, bye!" seru Adam lalu mengeret kopernya.

Shania melihat punggung pacarnya itu sambil tersenyum. Ia berpikir bahwa Adam adalah sosok yang hebat. Ia pintar, baik, dan mudah bergaul dengan siapapun. Dan ia pikir bahwa kembali kedalam pelukan Adam bukan sesuatu yang salah dan justru ia senang.

Di mobil yang ia kemudikan, ia hanya ditemani suara penyiar yang sedang memberikan informasi tentang konser Coldplay di Jakarta nanti. Lalu setelah itu, penyiar radio itu membacakan mention dari twitter yang masuk lalu membacakannya dan memberikan solusinya.

"Ini pertanyaannya bagus deh, kebetulan aku juga lagi mengalaminya. Dia gak mau disebut namanya, yaudah kita langsung ke pertanyaannya ya!"

Shania sambil memerhatikan jalanan juga ia menyimak pertanyaan yang akan disampaikan penyiar itu. "Bagaimana sih mengatasi rasa rindu yang amat mendalam kepada seseorang yang begitu saja pergi tanpa sebab dan kabar ?"

Shania langsung membesarkan sedikit volume radionya dan kembali menyimak jawaban dari penyiar. "Hahaha, gimana ya ? mungkin kita harus melupakannya secara paksa ? seperti membuang dan melenyapkan apapun yang pernah ia berikan kepada kita ? Itu salah besar karena itu tak akan membuat kamu lupa, justru itu akan terus membuatmu ingat terus tentangnya. Solusi terbaik mungkin mencari orang yang baru yang bisa menggeser dia dari hatimu. Mungkin terdegar jahat, namun memang harus bertindak jahat jika ingin lepas dari rasa rindu yang menyakitkan itu. Bener kan ?"

Shania justru kembali ingin melanjutkan pertanyaannya. "Oke kak, orangnya sudah hilang, namun bayangan tentangnya belum hilang. Bagaimana menghapusnya ?"

Shania tentu saat berpacaran bersama Adam masih memikirkan Zaki, namun memang benar, Adam mulai bisa menggeser Zaki dari hatinya. Saat ini, Zaki memang brengsek pergi tanpa berkabar namun ia juga mengerti pada saat itu mereka belum berpacaran, Zaki mau pergi kemanapun bukan urusannya.

Namun, rasa cinta tak tentu harus berbuah menjadi status "berpacaran." pikir Shania.

Jadi selama ia masih mencintai Zaki, selama itu pula ia terus merindukan laki-laki brengsek itu sampai rasa cinta dan sabarnya benar-benar habis. Shania berharap Adam membuatnya habis.

***

Wisnu mengetuk pintu flat temannya namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Namun tak lama kemudian pintu itu terbuka dan mereka berdua melihat seorang laki-laki India muncul dengan muka kusut dan mata merah.

"Hmm, Hey, Ada apa Wisnu ?" tanya Lakhsan sambil mengusap matanya. Ia terlihat baru bangun tidur.

"Tidak ada apa-apa, hanya ingin berkunjung, eh perkenalkan ini temanku, Valdy, dia datang dari Indonesia."

"Valdy."
"Lakhsan."

Setelah mereka berjabat tangan, Lakhsan mempersilahkan keduanya masuk. Flat ini terlihat sempit namun padat akan ruangan dan berlantai dua. Terdiri dari 3 kamar tidur, 1 ruang TV, Ruang makan, dapur, namun hanya memiliki satu kamar mandi, dengan tangga kayu yang menempel pada dinding membuat kesannya minimalis.

Valdy melihat selain Lakhsan ada seorang laki-laki yang duduk membaca buku.

"Hoy, Damien, ada tamu!" seru Lakhsan lalu mematikan PS-nya.

"Eh Wisnu, apa kabar ?" tanya Damien.

"Baik, eh ini temanku dari Indonesia." kata Wisnu.

Damien bangkit dari duduknya lalu menghampiri Valdy. "Damien, dari Prancis, salam kenal!"

Valdy mengangkat alisnya. "De France ? Je peux parler francais!"

Damien tersenyum "Ah bon ? Je suis tellement heureux de recontrer la personne qui peut parler francais."

Wisnu bingung dengan mereka berdua berbicara dengan bahasa aneh. Setelah itu Wisnu melihat Damien dan Valdy sedang membicarakan sebuah buku yang tebalnya minta ampun. Wisnu kenal dengan Damien karena mereka sempat bersebelahan menyaksikan laga Arsenal di Emirates Stadium. Mengetahui bahwa yang duduk di sebelahnya adalah koki terkenal di London membuatnya tak boleh melewatkan kesempatan berkenalan. Namun Damien lebih terkejut lagi ketika mendengar bahwa Wisnu adalah pemilik cafe yang terkenal di London.

Namun ia tak melihat Zaki disini. Mungkin Wisnu bisa mengenalkan Valdy kepada Zaki yang mungkin mereka berdua akan akrab.

Wisnu menghampiri Lakhsan. "Hey, mengapa kau mematikan PS mu ? Ayo main kembali denganku, kalah push-up 50x!"

***

Zaki tentu sudah menahan lapar ketika berjalan dengan Naomi tadi, namun sayangnya Naomi menolaknya walaupun ia sudah ada rezeki lebih dari penghasilannya bekerja di Mang Adat. Dengan perut keroncongan Zaki berjalan ke flatnya. Zaki memilih menabung uang itu dan makan di flatnya karena Damien sedang tidak ada shift hari ini sehingga meja makan pasti penuh dengan makanan lezat yang dibuat Damien.

Setelah sampai di daun pintu, ia mendengar sayup-sayup suara ramai di flatnya. Ia pikir mungkin ada Wisnu karena memang Wisnu terbilang sering ke flatnya hanya untuk bermain PS dengan Lakhsan. Lalu ia dengan cepat memasukan kartu sebagai akses masuk dan membukanya pelan.

Benar, ada Wisnu yang sedang bermain PS, namun ia melihat Damien sedang mengobrol dengan seseorang...

Zaki langsung terdiam sementara orang itu melihatnya dengan tatapan terkejut....

"Verdammnt!" gerutu Zaki sambil tersenyum.

To Be Continued

Read more ...